Lampung Utara — Proyek Penerangan Jalan Umum (PJU) senilai Rp 4,4 miliar untuk 997 titik di Kabupaten Lampung Utara menuai sorotan. Perusahaan pemenang proyek diketahui adalah PT Optima Bekasi, sementara temuan lapangan memunculkan dugaan ketidaksesuaian spesifikasi teknis.
Berdasarkan penelusuran di sejumlah titik pemasangan, terlihat instalasi kabel yang diduga merupakan jaringan lama. Tidak tampak adanya penarikan kabel baru secara signifikan sebagaimana lazimnya proyek PJU dalam skala besar.
“Kalau kabelnya masih lama, pertanyaannya: anggaran kabel baru itu ke mana?” ujar salah satu sumber yang meminta identitasnya dirahasiakan.
Selain itu, jenis lampu yang terpasang juga menjadi perhatian. Secara kasat mata, armatur lampu terlihat berukuran kecil hingga sedang—umumnya identik dengan daya 30–50 watt.
Kondisi ini memunculkan keraguan, mengingat dalam proyek-proyek serupa biasanya digunakan spesifikasi lebih tinggi untuk menjamin kualitas penerangan.
Tidak hanya itu, material tiang dan lengan lampu terlihat standar, bahkan cenderung minimalis, sehingga menimbulkan dugaan adanya perbedaan antara spesifikasi dokumen dan realisasi di lapangan.
Kepala Dinas Perhubungan Kabupaten Lampung Utara, Anom Sauni, saat dikonfirmasi melalui WhatsApp menyampaikan:
“Wa’alaikumsalam.
Perbandingan ada 20 perusahaan
Kita hanya beli lampu LED 120 watt”
Pernyataan ini menunjukkan bahwa proses pengadaan disebut telah melalui pembandingan sejumlah perusahaan, dan spesifikasi lampu yang dibeli adalah 120 wat
Namun demikian, klaim tersebut dinilai belum sepenuhnya menjawab temuan di lapangan.
Jika benar menggunakan lampu 120 watt, secara teknis seharusnya:
Armatur berukuran lebih besar
Intensitas cahaya lebih terang
Jangkauan penerangan lebih luas
Sementara hasil pengamatan menunjukkan karakteristik yang berbeda.
Selain itu, pertanyaan terkait penggunaan kabel lama, spesifikasi tiang, serta panel sambungan belum dijelaskan secara rinci.
Dengan total Rp 4,4 miliar untuk 997 titik, nilai per unit sekitar Rp 4,4 juta—masih dalam kategori wajar untuk proyek PJU konvensional.
Namun, pengamat menilai potensi penyimpangan tidak selalu terlihat dari angka.
“Yang sering terjadi adalah pengurangan spesifikasi. Ini lebih halus, tapi berdampak besar,” ujar seorang praktisi konstruksi.
Meski disebut melibatkan 20 perusahaan dalam proses pembandingan, hingga kini daftar lengkap peserta tender belum dipublikasikan secara terbuka.
Kondisi ini memunculkan dorongan agar:
Daftar peserta tender dibuka
Nilai penawaran masing-masing perusahaan diumumkan
Proses evaluasi dijelaskan secara transparan
Sorotan terhadap proyek ini mulai berkembang di tengah masyarakat. Sejumlah pihak mendesak audit independen untuk memastikan kesesuaian antara dokumen dan realisasi di lapangan.
Audit diharapkan mencakup:
Uji teknis lampu (daya riil)
Verifikasi material baru atau lama
Kesesuaian spesifikasi dengan kontrak
Kualitas pekerjaan secara menyeluruh
Keterlibatan PT Optima Bekasi sebagai pemenang proyek serta pernyataan resmi dari dinas menjadi bagian penting dalam klarifikasi. Namun, untuk meredam polemik yang berkembang, transparansi berbasis data dan audit independen dinilai menjadi langkah krusial.
Proyek bernilai miliaran rupiah ini diharapkan benar-benar memberikan manfaat nyata bagi masyarakat, bukan sekadar memenuhi target administratif.(Tim)












